you're reading...
Uncategorized

Ketika Pemakaman Menjadi Tempat Hiburan

Idul fitri tahun ini (1431 H) saya habiskan di suatu daerah yang bisa dibilang kota tua. Bukan kota tua yang terletak di bilangan Jakarta Barat melainkan kota tua sebuah idiom. Kota tua ini adalah kota Sumedang. Kota kecil yang berada dekat dengan Bandung ini sebagian besar wilayahnya dihuni oleh penduduk yang berusia lanjut. Itulah sebabnya saya sebut kota ini sebagai kota tua.
Tidak seperti lebaran-lebaran sebelumnya yang saya habiskan di kota Udang, di Sumedang saya menjalani suatu tradisi baru di perayaan hari idul fitri ini. Tradisi yang baru saya alami ini adalah tradisi ziarah kubur. Ziarah kubur memang bukan hal baru bagi saya. Namun melakukannya saat hari H lebaran adalah hal unik yang baru saya alami.

Saya tinggal di daerah rumah kakek/nenek di bilangan Prabu Geusan Ulun sedangkan lokasi pemakaman sesepuh dari kakek saya berlokasi di daerah Talun pojok. Kami berangkat dari rumah menuju Talun dengan berjalan kaki. Ya kira-kira jaraknya 1 kilometer. Semakin dekat kami ke daerah pemakaman, semakin kami rasakan aura yang berbeda. Kami mendengar keributan yang tidak pernah saya temui di daerah sekitar pemakaman. Satu hal unik yang pertama saya temui: petasan. Rentetan petasan yang biasa saya tonton adegannya di pesta perkawinan orang betawi hadir disini. Dan anehnya kakek nenek saya hanya tertawa melihat wajah saya yang mulai kebingungan.

Keramaian orang bertakziah memang sudah sering saya temui di daerah Jabang Bayi saat lebaran. Pemandangan para penjual kembang ‘tujuh rupa’ (belakangan saya hitung warna dan bentuknya tidak sampai 7 macam) dan pengasong air juga sudah menjadi hal yang lumrah di mata saya saat melintasi daerah pemakaman. Memang di gerbang menuju pemakaman sesepuh saya juga menampilkan penampakan yang sama dengan ilustrasi diatas. Kaki ini terus melangkah, namun yang saya rasakan bukan seperti hendak masuk ke daerah pemakaman tapi masuk daerah muludan-nya wong cerbon. Penjual mainan dan lapak-lapak warung kopi dan makanan mulai mewarnai langkah saya. Tak ketinggalan gerobak bakso yang ramai diantre bocah-bocah ingusan (denotasi) dan ibu-ibu semakin mengaburkan citra horor pemakaman dari benak saya. Pikiran liar saya pun berusaha mencari-cari pusat keramaian laiknya muludan dan pesta rakyat, apalagi kalau bukan korsel (komedi putar -nip). Sayangnya saya tak menemukan benda menggiurkan itu. Tapi saya yakin diujung keramaian itu ada sesuatu yang mirip dengan korsel.
Ternyata gerobak bakso adalah pintu gerbang sebenarnya. Sentuhan pemakaman mulai terasa sejak kami melewati gerobak reot tadi walaupun ada suasana piknik didalamnya. Banyak masyarakat menggunakan area pemakaman untuk menggelar tikar dan makan-makan disana. Juga banyak motor yang beru lalang di area pemakaman sehingga saya berpikir untuk menghubungi dinas perhubungan dan membuat semacam rambu lalu lintas.

Kami bergegas menuju makam keluarga kami yang memang letaknya berdekatan. Kami mendoakan almarhum/ah di suasana yang hening dan khidmat walaupun masih terpikir beberapa kejanggalan tadi. Seusai mendokan mereka, kami pulang melewati jalan yang sama. Namun, ada celotehan dari kakekku yang membuatku bingung untuk tertawa atau prihatin. Melihat kuburan yang dikawat disekelilingnya beliau bertitah sambil menunjuk kuburan tersebut “gimana kalo disini dimasukin bebek, domba, dan sapi aja biar multifungsi. Kan lebih produktif tuh dibanding dibiarin dipager gitu. lagipula tu mayat gamungkin kabur kan..”

Pengalaman yang aneh dan cukup membuat hariku lelah.😀

About Hanif

Muhammad Hanif Teknik Geofisika Institut Teknologi Bandung muhammad.hanif@students.itb.ac.id em.hanif@hotmail.com

Discussion

7 thoughts on “Ketika Pemakaman Menjadi Tempat Hiburan

  1. 1. kota tua = berisi orang tua
    kota udang = berisi udang (?)
    2. itu paragraf satunya kok ke enter.
    3. komentar beneran nih :
    sempat tersenyum kecil melihat realita yang ada, barangkali para penjaja mainan, bakso dan sebagainya sekaligus ingin ziarah kubur juga :))

    Posted by rifqi | 16/09/2010, 5:13 pm
    • kota berisi otak ud**g. haha
      wah ane ga mikirin bentuk paragraf gan. bukan untuk dikumpulin di portal kan?
      iya juga yah.. tapi kenape gerobaknya dibawa2 ye gan? hehe

      Posted by Hanif | 16/09/2010, 5:15 pm
  2. wow kuburan jaman sekarang rame yaa ha ha ha. seneng dong almarhum/ah jadi ada temennya. tapi mungkin lebih seneng lg kalo ramenya suara doa bukan suara petasan atau motor kayak gitu. gue jg seneng kalo meninggal nanti banyak yg ngunjungin dan doain gue he he he, ada gak ya?

    Posted by Maharani | 16/09/2010, 5:16 pm
  3. “gimana kalo disini dimasukin bebek, domba, dan sapi aja biar multifungsi. Kan lebih produktif tuh dibanding dibiarin dipager gitu. lagipula tu mayat gamungkin kabur kan..”

    hehehe mantep gan! pemanfaatan lahan kosong, ane setuju gan😀

    Posted by Red Dog | 16/09/2010, 5:17 pm
  4. lho.. mg knpa di sumedang nif?
    keluarga disitu?

    Posted by elowpii189 | 28/09/2010, 7:25 am

Komentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: